Selamat Datang Risna's Simple Blog: Dari Tanah Cenderawasih ke Tanah Mandar: Sebuah Perjalanan Mengabdi : Mengikis Jarak,Mengukir Cita, menemukan rumah dalam pendidikan.

Galeri

Dari Tanah Cenderawasih ke Tanah Mandar: Sebuah Perjalanan Mengabdi : Mengikis Jarak,Mengukir Cita, menemukan rumah dalam pendidikan.


 Tema: cerita perjuangan  pendidikan yang inspiratif








Segala peristiwa tentunya mempunyai sebuah permulaan, dan lakon ini bermula di ufuk timur tanah air nan jauh disana yakni Bumi Cenderawasih begitulah kiranya permulaan ini hadir. Lahir dan tumbuh besar di tanah Papua, disanalah menjadi saksi lahirnya mimpi-mimpi sederhana saya. Membuka mata untuk pertama kalinya, dan tumbuh di tengah ragam suku dan budaya yang tentunya memberikan banyak sekali bentuk pengetahuan hidup yang bermakna dalam kehidupan tentunya. Hadirnya guru-guru di sekolah senantiasa memberikan motivasi dan wejangan untuk melanjutkan pendidikan memberikan spirit tersendiri.

Satu perjalanan setuju harapan, lahir dan tumbuh di tanah rantau dan merantau kembali untuk menimba ilmu demi menempuh pendidikan S-1 di kota Daeng. Hadirnya mimpi ini memberanikan diri melakukan perjalanan melintasi pulau dan mengarungi hidup jauh dari orangtua. Sebenarnya dalam hidupku, hampir tak pernah jauh dari mereka akan tetapi karena ingin mengambil keputusan besar, saya harus memberanikan diri meninggalkan zona nyaman untuk merantau demi cita-cita melanjutkan pendidikan. Meski bukanlah hal yang mudah untuk di jalani tentunya ada ketakutan, kecemasan mengiringi langkah dalam mengukir cita-cita. Meski pada akhirnya beberapa tahun kemudian, orangtua kembali jua ke tanah leluhur kita yakni mutasi sebelum benar-benar purna tugas.

Beberapa perjalanan dimulai dari tempat yang sama. lahir dan tumbuh di Papua, tanah yang membesarkan mimpi-mimpiku. Meski bergumul dengan pertanyaan perihal krisis identitas diri ini tentang di mana sebenarnya diri ini berasal dan ke mana akan pulang. Namun takdir kemudian membawaku kembali ke kampung leluhur di Sulawesi Selatan untuk mengenal akar keluarga dan membangun masa depan. Dari sinilah perjalananku benar-benar dimulai. Merantau bukan sekadar berpindah tempat, tetapi proses belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan tentang bagaimana perjalanan membentukku.

Meski tentunya kita pernah mendengar stigma bahwa ‘’untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh nanti di dapur juga’’ begitu kira-kira ungkapan yang pernah didengar. Padahal, perempuan juga berhak memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki dan tentunya hal ini bukan hanya bertujuan mempersiapkan seseorang memasuki dunia kerja semata namun, bagaimana mewujudkan cara berpikir, meningkatkan kemampuan memutuskan keputusan, memperluas wawasan, serta memperkuat daya tampung dan daya juang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Saya menyakini setiap langkah yang dijalani dengan ketulusan akan bemuara pada jalan kebaikannya. Merantau mengubah cara saya memandang kehidupan, selain terselubung tantangan yang dialami, namun berkah perjalanan merantau ini membuka pintu kesempatan memperoleh Beasiswa Unggulan. Tak sekedar apreasisi melainkan sebuah perolehan meski bagi oranglain sederhana namun bagiku, hal ini sebagai tanda bagaimana perjalanan mengikis jarak membuahkan peluang yang baik dan harapan yang indah itu akan menghampiri meski diliputi sedikit kecemasan tentang masa depan.

Perjalanan sebagai mahasiswa bukan hanya perihal memburu sebuah gelar. Di sela-sela perkuliahan, saya memilih aktif dalam berbagai organisasi. Organisasi sudah seperti rumah kedua, bertemu ragam teman dari berbagai daerah, saya juga belajar menyampaikan pendapat, memimpin sebuah tim, memecahkan masalah, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Setiap pengalaman adalah  bekal yang bernilai untuk langkah pengabdian di masa depan.

Usai meraih gelar sarjana, dan tetap berada di kampung leluhur, saya belum langsung menemukan jalan pengabdian yang sesuai. Saya mencoba peruntungan dengan mengawali dari tahap sederhana sebagai guru les privat. Meskipun ruang belajar hanya di rumah-rumah siswa, malang-melintang itu melatih saya bahwa tiap proses pembelajaran memiliki arti, sekecil apa pun tempatnya. Sambil menjadi guru les privat saya mencoba kembali peruntungan selanjutnya, yakni ketika membuka sosial media saya membaca adanya pengumuman perihal pembukaan Program Pendidikan Profesi Guru / PPG Prajabatan. Setelah melakukan rentetan tes untuk mejadi mahasiswa PPG Prajabatan, kemudian di nyatakan lulus untuk berkuliah kembali selama satu tahun.

Sambil tetap menjadi guru les privat, saya terus mempersiapkan diri untuk menjadi pendidik profesional dengan melanjutkan pendidikan melalui PPG Prajabatan. Menjalani dua peran sekaligus ternyata bukanlah sesuatu hal yang mudah. Saya harus belajar management time membagi waktu antara mengajar, menyelesaikan tugas perkuliahan, dan terus mengembangkan kompetensi. Saya percaya bahwa setiap proses adalah investasi untuk menjadi guru yang lebih baik dan membentuk pandangan sebagai pembelajar sepanjang hayat. Petualangan itu terus berlanjut. Di pagi atau sore hari saya mengajar les privat, sementara malam hari saya kembali berkutat dengan LMS, tugas, dan refleksi sebagai mahasiswa PPG Prajabatan. Hari-hari seketika terasa cukup panjang, tetapi saya menikmati setiap prosesnya. Sebab saya tahu, setiap lelah yang saya jalani sedang membentuk diri saya menjadi pendidik yang lebih siap untuk mengabdi.

Menjadi mahasiswa Program PPG Prajabatan cukup memberi kesan tersendiri dalam hidup, ilmu yang bermanfaat, proses di tempah yang apik, menciptakan pengalaman, persahabatan dan pelajaran hidup yang membentuk cara pandang saya sebagai pendidik. Saya belajar bahwa menjadi pendidik bukan sekadar menguasai materi, melainkan tentang empati, menghargai keberagaman, daya juang, kemampuan berkolaborasi, serta komitmen untuk terus belajar dan bertumbuh. Dalam Program ini juga menempah saya, sehingga memperluas wawasan saya tentang isu inklusi atau pendidikan inklusif bagaimana tentang hak dan kesetaraan. Hal ini bekal yang bernilai untuk terjung langsung mewarnai dunia pendidikan.

Takdir membawa saya melintasi nusantara. Dari Papua saya menuliskan mimpi, belajar menulis dan belajar perihal keberagaman, dari Sulawesi Selatan saya menemukan akar, dan melalui Program PPG Prajabatan menjembatani dan mengantarkan dengan Tanah Mandar. Daerah yang tidak pernah ada dalam pikiran namun di sanalah takdir membawaku menemukan rumah dalam bingkai pendidikan, menanam benih-benih harapan melalui pendidikan mengemban amanah sebagai Guru PPPK. Ragam perjalanan yang saya lalui seakan berpadu-padan menjadi satu jawaban: saya berada di tempat yang tepat untuk mengabdi.

Selain itu, berkiprah di Tanah Mandar membuka pemahaman saya bahwa harapan selalu ada saat kesempatan muncul ketika saya mendapatkan tempat pengabdian di sebuah daerah dekat dengan pesisir pantai, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada murid yang beresiko bisa saja tidak melanjutkan pendidikan karena berbagai rintangan yang mereka hadapi. Pengalaman ini membuat saya semakin mengerti bahwa peran seorang guru bukan hanya mengajar di dalam ruang kelas, tetapi juga membangun harapan agar setiap anak tetap optimis tentang masa depannya. Setiap kali saya melihat semangat mereka dalam belajar, saya semakin yakin bahwa semua anak memiliki potensi yang pantas untuk diperjuangkan. Saya berharap mereka dapat terus menempuh pendidikan hingga tingkat yang tinggi, tanpa harus berhenti karena keterbatasan situasi. Bagi saya, setiap anak yang tetap berada di sekolah adalah simbol harapan yang tak pernah pudar, dan setiap impian yang mereka capai adalah keberhasilan yang juga membawa kebahagiaan bagi seorang guru.

Di sekolah, saya menyaksikan semangat belajar para siswa semakin berkembang berkat berbagai dukungan pendidikan yang tersedia. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membantu siswa belajar dalam keadaan yang lebih baik, bagi sebagian orang, seporsi makanan mungkin tampak sederhana akan tetapi bagi sebagian murid hal itu menjadi awal dari semangat baru untuk senantiasa datang ke sekolah dan belajar dengan penuh harapan. Saya menyaksikan bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadirkan energi dan antusiasme yang membuat suasana belajar terasa lebih hidup setiap harinya.

Semoga senantiasa membara terus harapan untuk tetap melanjutkan pendidikan dengan hadirnya berbagai program dari pemerintah, sebagai pendidik saya melihat, tidak semua anak berada dalam situasi ekonomi yang serupa. Namun, saya berpendapat bahwa Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan salah satu bentuk dukungan yang sangat membantu banyak keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak-anak mereka. Bantuan ini memberikan harapan dan memotivasi para siswa untuk tetap melanjutkan pendidikan dan berusaha mencapai impian mereka. Mungkin bagi sebagian murid, Program Indonesia Pintar (PIP) lebih dari sekadar bantuan di bidang pendidikan. Program ini menjadi harapan yang menyemangati mereka untuk terus mengingat mimpi-mimpi mereka. Saya telah melihat bagaimana peluang yang diberikan oleh PIP membuat banyak anak semakin percaya bahwa keterbatasan finansial bukanlah akhir dari perjalanan mereka menuju masa depan yang lebih baik. Adanya Program Indonesia Pintar (PIP) memberikan harapan bagi banyak keluarga agar anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan tanpa dibebani oleh masalah ekonomi.

Saya berharap dengan bertambahnya akses dan dukungan dalam pendidikan, tidak ada anak yang perlu mengubur harapannya karena terpaksa menghentikan sekolah. Setiap anak seharusnya mendapatkan peluang yang sama untuk belajar, berkembang, dan mengejar cita-citanya. Semoga tidak ada anak yang harus menghentikan perjalanan mereka menuju masa depan hanya karena masalah keuangan atau kurangnya akses pendidikan. Mari setiap ruang kelas dipenuhi dengan tawa, semangat belajar, dan impian yang terus berkembang. Sebagai seorang guru, harapan terbesar saya sederhana: melihat setiap anak tetap belajar di sekolah, belajar dengan semangat, dan tumbuh menjadi generasi yang memiliki karakter. Semoga semakin banyak dukungan yang tersedia, sehingga tidak ada lagi alasan bagi anak-anak di Indonesia untuk keluar dari sekolah dan kehilangan kesempatan untuk menggapai masa depan yang mereka impikan.

 

0 komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda dibawah ini (Trisna Irianti)